Posted by Wanua Bone» on - - 0 komentar»

Tikus (rat) dalam bahasa Bugis Balesu atau Balawo merupakan musuh utama para petani.
Rattus argentiventer (Rob. & Kloss) Tikus merusak tanaman padi pada semua fase tumbuh dari semai hingga panen, bahkan sampai penyimpanan. Kerusakan parah terjadi jika tikus menyerang padi pada fase generatif, karena tanaman sudah tidak mampu membentuk anakan baru. Pada serangan berat, tikus merusak tanaman padi mulai dari tengah petak, meluas ke arah pinggir, dan menyisakan 1-2 baris padi di pinggir petakan. (Tikus menyerang padi pada malam hari. Pada siang hari, tikus bersembunyi dalam sarangnya di tanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan di daerah perkampungan dekat sawah. Pada periode bera, sebagian besar tikus bermigrasi ke daerah perkampungan dekat sawah dan akan kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang generatif. Kehadiran tikus pada daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way), kotoran/faeces, lubang aktif, dan gejala serangan.
Tikus sangat cepat berkembang biak dan hanya terjadi pada periode padi generatif. Dalam satu musim tanam, satu ekor tikus betina dapat melahirkan 80 ekor anak. Pengendalian tikus dilakukan melalui pendekatan PHTT (Pengendalian Hama Tikus Terpadu), yaitu pengendalian yang didasarkan pada biologi dan ekologi tikus, dilakukan secara bersama oleh petani sejak dini (sejak sebelum tanam), intensif dan terus-menerus.
Berkembangnya penggunaan pestisida sintesis (menggunakan bahan kimia sintetis) yang dinilai praktis oleh para pencinta tanaman untuk mengendalikan hama dan penyakit, ternyata membawa dampak negatif bagi lingkungan sekitar bahkan bagi penggunanya sendiri. Catatan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia mencatat bahwa di seluruh dunia setiap tahunnya terjadi keracunan pestisida antara 44.000 - 2.000.000 orang dan dari angka tersebut yang terbanyak terjadi di negara berkembang. Dampak negatif dari penggunaan pestisida diantaranya adalah meningkatnya daya tahan hama terhadap pestisida, membengkaknya biaya perawatan akibat tingginya harga pestisida dan penggunaan yang salah dapat mengakibatkan racun bagi lingkungan, manusia serta ternak.
Bahan yang digunakan pun tidak sulit untuk kita jumpai bahkan tersedia bibit secara gratis. Contohnya seperti tanaman bunga kenikir yang masih dapat di temui ditanah-tanah kosong pada daerah yang cukup tinggi.. Jenis lain yang digunakan pun harus sesuai dengan karakter dari bahan yang akan digunakan serta karakter dari hama yang ada. Seperti peribahasa, tak kenal maka tak sayang, sehingga menjadi: tak kenal bahan dan jenis hama maka tak dapat mengusir dan mengendalikan hama .
Dosis yang digunakan pun tidak terlalu mengikat dan beresiko dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintesis. Untuk mengukur tingkat keefektifan dosis yang digunakan, dapat dilakukan eksperimen dan sesuai dengan pengalaman pengguna. Jika satu saat dosis yang digunakan tidak mempunyai pengaruh, dapat ditingkatkan hingga terlihat hasilnya. Karena penggunaan pestisida alami relatif aman dalam dosis tinggi sekali pun, maka sebanyak apapun yang diberikan tanaman sangat jarang ditemukan tanaman mati. Yang ada hanya kesalahan teknis, seperti tanaman yang menyukai media kering, karena terlalu sering disiram dan lembab, malah akan memacu munculnya jamur. Kuncinya adalah aplikasi dengan dosis yang diamati dengan perlakuan sesuai dengan karakteristik dan kondisi ideal tumbuh untuk tanamannya.

PENGENDALIAN HAMA TIKUS DENGAN CARA MEMANDULKAN INDUKNYA DENGAN
UMBI GADUNG

Bahan:
1.Umbi gadung 1 kg
2.Dedak padi 10 kg
3.Tepung ikan 100 gr
4.Kemiri beberapa biji
5.Air secukupnya
Umbi Gadung Jamu/KB yang sudah siap pakai. Gadung ini biasa didapat di kebun petani.
Catatan:
Resep di atas jika bahan gadung diganti dengan gadung racun maka dapat digunakan untuk membunuh tikus.
Cara Pembuatan:
Umbi gadung dikupas dan dihaluskan bersama kemiri. Kemudian dicampurkan secara merata dengan dedak padi, tepung ikan, dan air hingga menjadi adonan. Adonan tersebut kemudian dibuat pelet kering.
Cara Aplikasi:
Pelet tersebut disebarkan di pematang sawah,di sarang atau di lubang-lubang tikus.

PENGENDALIAN HAMA TIKUS DENGAN MENGGANGGU KEBERADAANNYA
DENGAN MENGGUNAKAN BUAH AREN

BAHAN :
Buah Aren 20-30 Buah
Alat:
Parang atau Pisau
Cara Aplikasi :
Siapkan buah aren yang baru dipetik dari pohonnya.
Potong-potong buah enau sampai 4 s/d 5 potong. Kemudian diletakkan pada saluran irigasi air masuk yang mengaliri sawah.
Waktu yang terbaik untuk melakukannya , yaitu pada saat matahari mulai terbenam.
Lakukan sebanyak 3 kali seminggu sampai saat ketika butir padi sedang masak.
Waspadalah !!!!!!!!!
Terlalu banyak buah enau akan beracun dan dapat mempengaruhi kesehatan.
Hati-hati menggunakannya pada aliran air yang sering digunakan orang untuk mandi.
INGATLAH
Jika Getah enau mengenai Anda, akan menyebabkan Gatal.
ANTISIPASI
Antisipasi dengan Menggunakan bulu ijuk
(Sumber : http://cybex.deptan.go.id)

Categories:

Tulis Komentar Anda

Terima Kasih Komentar Anda Salam dari WANUA BONE